7 Fakta tentang Depresi Akibat Media Sosial

Bagikan :

media sosial, depresi media sosial

7 Fakta tentang Depresi Akibat Media SosialMungkin media sosial tidak dimaksudkan untuk menjadi sebuah gaya hidup masa kini. Tapi tetap saja ia mampu mengendalikan hidup kita lebih dari satu cara. Orang jaman sekarang sebagian besar memiliki akun di situs jejaring sosial. Tidak diragukan lagi, media sosial memang mudah sekali diakses, ini karena smartphone memiliki fitur untuk terhubung kapan saja. Teknologi internet telah membuat orang lebih dekat, menghubungi orang lebih mudah, bahkan memberi kemudahan untuk mengakses berita dan pengetahuan. Tetapi di satu sisi, itu juga merenggut ketenangan pikiran dan membuat kita obsesif tentang kehidupan orang lain. Keinginan untuk selalu eksis setelah selfie pada situs jaringan sosial adalah trend baru saat ini. Apakah Anda tahu bahwa hal ini juga mengakibatkan depresi klinis? Banyak orang yang terjerumus akibat ketergantungan media sosial. Berikut kami tuliskan 7 fakta tentang depresi yang disebabkan oleh media sosial yang harus Anda ketahui.

1. Menggunakan media sosial terkadang membangkitkan banyak emosi negatif yang dapat menyebabkan depresi media sosial. Setiap membuka akun sosial media, kita terus-menerus dibombardir dengan update tentang berbagai hal menarik terjadi dalam kehidupan. orang lain. Saat kita melihat promosi baran-barang bagus, foto teman-teman yang sedang pergi berlibur, dan semua bentuk kesenangan yang terkadang membuat kita merasa iri. Media sosial pada saat yang sama, juga membuat kita merasa baik jika kita mendapatkan komentar positif pada update status kita sendiri, ketika seseorang mengucapkan selamat pada hari ulang tahun kita, atau tentang beberapa prestasi yang kita buat.

2. Depresi akibat sosial media muncul karena kita terlalu membandingkan hidup kita dengan orang-orang yang kita lihat saat online. Situs media sosial bisa sangat menyesatkan karena kita hanya melihat ‘hal-hal bagus’ dari satu sisi apa yang dibagikan oleh seseorang. Pikirkan tentang hal ini, Anda pasti akan memilih mengupdate hal-hal bagus di media sosial, dan menyimpan hal-hal yang buruk supaya tidak diketahui orang. Hal yang sama juga berlaku pada sebagian besar orang lain. Mereka lebih memilih mengupdate informasi yang mereka anggap bagus saja, dan menyembunyikan apa yang menurut mereka jelek.

3. Depresi sosial media belum diterima secara profesional sebagai istilah untuk gangguan mental. Tetapi, depresi media sosial adalah hal yang sangat nyata mempengaruhi remaja bahkan orang dewasa saat ini.

4. Telah ditemukan bahwa situs media sosial dapat mempengaruhi kesehatan mental beberapa orang. Penggunaan internet berlebihan secara psikologis memang bisa mempengaruhi beberapa orang. Penelitian telah menunjukkan bahwa anak-anak dan remaja lebih rentan terhadap jenis depresi, dan kaum perempuan lebih mungkin terpengaruh dibandingkan laki-laki.


5. Depresi disebabkan oleh penggunaan media sosial sangat tergantung pada masing-masing penggunanya. Misalnya, media sosial sering digunakan sebagai alat untuk menyindir atau mengeluarkan kata-kata negatif untuk menyerang orang lain secara verbal. Tentu saja hal itu dapat menyebabkan depresi dengan membuat seseorang merasa tertekan setelah membaca komentar atau beberapa postingan.

6. Alasan lain mengapa media sosial dapat menyebabkan depresi adalah ketika kita berpura-pura menjadi bahagia agar semua orang tahu. Terkadang, kita menyembunyikan perasaan kita yang sebenarnya ketika kita update atau meng-upload gambar. Kita hanya menunjukkan sisi terbaik dari hidup kita ke dunia luar. Tanpa kita sadari hal ini dapat menyebabkan iri hati pada orang lain. Orang yang membaca status atau melihat gambar tersebut juga mungkin merasa depresi bahwa hidupnya tidak sebegitu baik seperti apa yang dilihatnya pada orang lain.

7. Untuk menghindari depresi yang disebabkan oleh media sosial, para ahli menyarankan untuk berhenti membandingkan hidup Anda dengan orang lain. Situasi dan kondisi dalam kehidupan setiap orang berbeda-beda, dan membandingkan hidup Anda dengan orang lain adalah hal yang sia-sia. Apa yang dimiliki orang lain, mungkin tidak Anda miliki. Apa yang Anda miliki, orang lain mungkin tidak memilikinya. Dan, cara terbaik untuk menghindari perasaan buruk sangka adalah dengan cara memposisikan media sosial hanya sebagai sarana hiburan saja. Juga, jangan hanya bergantung pada internet saja. Bersosialisasi di dunia nyata juga sangat penting.

Bagikan :

You may also like...